Aku Tak Pernah Punya Cita-Cita

 "Kenapa diam saja? Gak mau pulang, ya?" Setengah jam berlalu saat teman-teman satu kelasku sudah pulang setelah menjawab pertanyaan yang sakral dan suci. Tersisa aku, guruku, dan seluruh perabotan kelas. Padahal hati dan pikiranku melayang-layang mencari jawaban yang pas dan sakti agar Ibu Ema, perempuan anggun berkerudung panjang idaman setiap Bapak-bapak guru itu, banga atas jawaban yang aku berikan. 

BRAAK..!!!

Membuatku terlonjak tingkat pusat. Menganga dan terpaku. Sosok Bu Ema berdiri tegap di depanku. Kecut dan penuh ambisi terpancar dari wajahnya. Ya, dia menggebrak meja sedemikian keras sebab aku melamun jauh sekali. Teramat jauh, hampir tersesat. "Kalau gak mau jawab, pulang saja! Masih kecil kok melamun!" Nada marahnya membuat ciut nyali pria manapun yang ingin melamarnya. Tergesa-gesa pula kurapikan tas dan segera lari keluar kelas tanpa sepatah kata pun. Namun, di ambang pintu kakiku berhenti dengan sendirinya seraya menoleh Bu Ema yang berdiri membelakangi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berbagi Kasih dengan Sahabat